KUNJUNGAN ke dokter gigi selalu membuat saya takut. Dan
begitulah di suatu pagi saya duduk dengan canggung dan keringat dingin
persis seperti pertama kali wawancara kerja. Ditambah lagi suara mesin
bor gigi membuat saya makin ngilu.
Majalah yang dari tadi saya
bolak-balik langsung meloncat dan jatuh begitu nama saya di panggil.
Keadaan lebih memalukan lagi di dalam kamar praktek dokter gigi.
Jangankan bersuara, membuka mulut nyaris tak bisa saya lakukan tanpa
gemetaran.
”Ya..sudah selesai,” adalah suara paling membahagiakan
yang saya dengar hari itu. Saya keluar ruangan seperti seorang juara
dan terus terseyum berhari-hari setelahnya.
Dengan harga-harga
yang makin melambung, kitapun mau tidak mau harus berhadapan dengan
sesuatu yang menakutkan yang boleh saja kita sebut ”kesulitan hidup”
jika tidak tega mengatakan kemiskinan. Kabarnya ibu-ibu bingung, sebab
uang belanja yang biasanya cukup buat satu hari, kini hanya bisa
mencukupi sampai makan siang saja.
Tenang, lonjakan harga-harga
adalah kejadian yang berulang, seperti sakit gigi. Anda hanya harus
mengatasi rasa takut ke dokter gigi, artinya barangkali Anda sedikit
frustasi namun jangan sampai patah semangat sebab ada semacam berkah
tersenbunyi.
Bahwa kondisi demikian paling tidak membuat perilaku
konsumsi menjadi lebih rasional, sehingga langkah-langkah rasionalisasi
yang diambil tidak akan menjadi siksaan karena mampu disiasati dengan
tepat.
Rasionalisasi = Berhemat + Meningkatkan Penghasilan
Mau
tidak mau, lonjakan harga-harga yang tidak diimbangi dengan naiknya
pendapatan, membuat kita harus melakukan penyesuain gaya hidup menjadi
lebih rasional. Terpangkasnya pengeluaran membuat kita berpikir
berkali-kali setiap kali membeli suatu barang.
Barang kebutuhan
pokok menjadi prioritas, sementara pembelanjaan yang sifatnya spontan
harus ditinjau ulang, dengan kata lain kita melakuakn penghematan
misalnya antara lain:
Cobalah mengendalikan hasrat atau
keinginan, bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Berbelanjalah
berdasarkan kebutuhan Anda dan perhitungkan mana kebutuhan pokok yang
mutlak dan mana kebutuhan realistis yang masih bisa disesuaikan
anggarannya.
Jangan jadikan gengsi sebagai prioritas dalam
berbelanja. Keterbatasan anggaran membuat perbaikan perilaku
pembelanjaan semakain penting. Mungkin tidak ada anggran lagi untuk
membeli pakaian, sepatu, atau asesoris bermerk, juga gonti-ganti
hanphone hanya sekedar menjaga gengsi.
Terapkanlah kiat-kiat
merawat barang- barang yang sudah kita milki agar bisa tampil rapi dan
hemat biaya. Kurangi frekuensi bepergian ke pusat perbelanjaan.
Buatlah
daftar kebutuhan terlebih dahulu, dan berbelanja barang yang hanya
terdapat dalam daftar belanja. Mungkin tidak perlu selalu mengajak si
kecil ikut berbelanja, usahakan agar langsung menuju rak atau counter yang sudah direncanakan.
Cobalah
lebih memperhatikan berbagai cara menghindari sakit agar bisa
menghindari mahalnya biaya kesehatan, misalnya menghindari stress,
karena banyak penyakit yang terpicu oleh gangguan psikis. Terapkan pola
makanana sehat, juga lakukan olahraga secara rutin untuk meningkatkan
kebugaran tubuh tanpa bantuan suplemen.
Lakukan strategi
meminimalkan beban rekening listrik, telpon, dan air. Misalnya gunakan
alat listrik berdaya rendah dan hematlah penggunaanya. Terapkan juga
cara-cara pengehematan telpon biasa dan pulsa HP, misalnya biasakan
membicarakan hanya hal-hal penting ditelpon, menggunakan kartu pra
bayar, kurangi kegiatan chatting di internet. Iritlah juga dalam
penggunaan air, jadwalkan penggunaan pompa listrik, gunakan air 1-2
ember untuk cuci mobil, karena selang air membuat air bersih banyak
terbuang.
Rekreasi perlu namun tidak harus mahal. Cobalah
menggali hakikat rekreasi dari hal-hal yang sederhana. Misalnya
melakukan kegiatan bersama keluarga di rumah. Intinya, pemangkasan biaya
rekreasi tidak harus mengurangi makna rekreasi itu sendiri.
Masih
banyak sekali ide-ide penghematan dalam rangka mensiasati kenaikan
harga saat penghasilan belum bertambah. Dengan sedikit kreatifitas dan
kerjasama seluruh anggota keluarga maka penghematan bisa membatu Anda
menyeleseaikan masalah ini dalam jangka pendek, sambil secara
pelan-pelan dalam jangka panjang Anda melakukan usaha-usaha menambah
penghasilan.
Ya..betul, penghematan saja tidak cukup jika tidak
diikuti peningkatan penghasilan. Sebab kenaikan harga-harga akan terus
terjadi tahun depan, akibatnya pengeluaran kembali naik. Jika tidak
diikuti dengan kenaikan penghasilan, jangankan berinvestasi untuk
kebutuhan harianpun pas-pasan.
Meningkatkan Penghasilan dengan Multi Karier
Dalam
ketidakpastian ekonomi memiliki beberapa sumber pendapatan adalah cara
yang realistis agar sebuah keluarga dapat terus meningkatkan
penghasilannya. Kalau begitu mengapa hanya menekuni satu bidang
pekerjaan? Mengapa tidak menjalankan beberapa profesi bersamaan? Secara
finansial Anda tetap aman karena tidak perlu meninggalkan pekerjaan
utama, sambil mempelajari sesuatu yang baru.
Lagipula memiliki
multi karir memberikan Anda keseimbangan agar tidak kelelahan atau
kehilangan minat pada pekerjaan utama. Orang yang memiliki multi karir
berarti memiliki dan menjalankan beberapa jenis pekerjaan sekaligus.
Mereka ingin menjajal kemampuan di bidang lainnya tanpa harus
mengorbankan pekerjaan formalnya saat ini.
Misalnya, sesorang
pada jam kerja biasa bekerja sebagai seorang karyawan di bagian
akunting, kemudian seminggu tiga kali pada sore hari dia menjadi pelatih
fitness di sebuah pusat kebugaran. Pada akhir pekan dia berjualan batik
di berbagai bazar. Artinya dia memiliki pekerjaan resmi, melakukan
kerja paruh waktu dan menjadi wirausahawan , alhasil dia menjalankan
tiga jenis karir yang berbeda sekaligus.
Nah, Anda juga bisa
mengembangkan apa yang menjadi kompetensi Anda di perusahaan dan
mengubahnya menjadi konsultan atau bergabung dengan lembaga yang
menyediakan tenaga profesional temporer.
Faktanya, di dunia
korporasi para pekerja tidak memberikan 100 persen waktu mereka,
melainkan memberikan komitmen 80 persen dari waktu kerja mereka dan
melihat-lihat kalau ada peluang melakukan hal lain.
Golongan
orang di luar kelas pekerja pun, umumnya menerapkan waktu kerja secara
fleksibel. Jadi konsep bekerja parug waktu walau belum sepenuhnya
diterima namun makin banyak diminati. Yang patut diingat, menjalankan
multi karier adalah proses berkembang tanpa kehilangan keamanan dari
pekerjaan atau kehilangan kepercayaan diri atas keahlian Anda. Selamat
mencoba.
http://economy.okezone.com/read/2014/01/10/315/924620/berhemat-atau-meningkatkan-penghasilan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar